me

me

Kamis, 11 April 2013

RA Kartini, "Habis Gelap Terbitlah Terang" dengan Kyai Sholeh Darat, Sejarah Bangsa yang Digelapkan Orientalis Belanda.


 “Selama ini Al-Fatihah gelap bagi saya.  Saya tak mengerti sedikitpun maknanya. Tetapi sejak hari  ini ia menjadi terang-benderang sampai kepada makna tersiratnya,  sebab Romo Kyai telah menerangkannya dalam bahasa Jawa  yang saya pahami.”.


            Kyai Sholeh Darat merupakan guru ulama terkemuka, seperti KH Hasyim Asy`ari (Tebuireng Jombang, pendiri NU), KH Ahmad Dahlan (Yogyakarta, pendiri Muhammadiyah), KH Mahfuzh (Tremas), KHR Dahlan (Tremas), Kiai Amir (Pekalongan), Kiai Idris (Surakarta), KH Abdul Hamid (Kendal),  Kiai Khalil (Rembang), dan Kiai Penghulu  Tafsir Anom  (Kraton Surakarta). Salah satu murid Kyai Sholeh Darat yang terkenal, tetapi bukan dari kalangan ulama adalah Raden Ajeng Kartini. Karena RA Kartini inilah kyai Sholeh Darat menjadi pelopor penerjemahan Al-Qur’an ke Bahasa Jawa. Menurut catatan cucu Kyai Sholeh Darat (Hj. Fadhilah Sholeh), RA Kartini pernah punya pengalaman tidak menyenangkan saat mempelajari Islam. Guru ngajinya memarahinya karena dia bertanya tentang arti sebuah ayat Qur’an.

BIOGRAFI
            Raden Adjeng Kartini adalah seseorang dari kalangan priyayi atau kelas bangsawan Jawa, putri Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, bupati Jepara. Ia adalah putri dari istri pertama. Ibunya bernama M.A. Ngasirah, putri dari Nyai Haji Siti Aminah dan Kyai Haji Madirono, seorang guru agama di Telukawur, Jepara. Dari sisi ayahnya, silsilah Kartini dapat dilacak hingga Hamengkubuwana VI. Sampai usia 12 tahun, Kartini diperbolehkan bersekolah di ELS (Europese Lagere School). Di sini antara lain Kartini belajar bahasa Belanda. Tetapi setelah usia 12 tahun, ia harus tinggal di rumah karena sudah harus dipingit.

                Surat Curhat           
            Dalam suratnya kepada Stella Zihandelaar bertanggal 6 November 1899, R.A. Kartini       menulis:
                        Mengenai agamaku, Islam, aku harus menceritakan apa? Islam melarang umatnya mendiskusikan ajaran agamanya dengan umat lain. Lagi pula, aku beragama Islam karena nenek moyangku Islam. Bagaimana aku dapat mencintai agamaku, jika aku tidak mengerti dan tidak boleh memahaminya? Alquran terlalu suci; tidak boleh diterjemahkan ke dalam bahasa apa pun, agar bisa dipahami setiap Muslim. Di sini tidak ada orang yang mengerti Bahasa Arab. Di sini, orang belajar Alquran tapi tidak memahami apa yang dibaca. Aku pikir, adalah gila orang diajar membaca tapi tidak diajar makna yang dibaca. Itu sama halnya engkau menyuruh aku menghafal Bahasa Inggris, tapi tidak memberi artinya. Aku pikir, tidak jadi orang soleh pun tidak apa-apa asalkan jadi orang baik hati. Bukankah begitu Stella?

            RA Kartini melanjutkan curhat-nya, tapi kali ini dalam surat bertanggal 15 Agustus 1902 yang dikirim ke Ny Abendanon.

                        Dan waktu itu aku tidak mau lagi melakukan hal-hal yang tidak tahu apa perlu dan manfaatnya. Aku tidak mau lagi membaca Alquran, belajar menghafal perumpamaan-perumpamaan dengan bahasa asing yang tidak aku mengerti artinya. Jangan-jangan, guruku pun tidak mengerti artinya. Katakanlah kepada aku apa artinya, nanti aku akan mempelajari apa saja. Aku berdosa. Kita ini teralu suci, sehingga kami tidak boleh mengerti apa artinya.     
     
                Bertemu Kyai Sholeh Darat           
            Jika membaca surat-surat Kartini yang diterbitkan oleh Abendanon dari Belanda, terkesan Raden Ajeng Kartini sudah jadi sekuler dan penganut feminisme. Mengapa? Karena dalam surat surat RA Kartini yang sudah diedit & dalam pengawasan Abendanon yang notabene adalah aparat pemerintah kolonial Belanda & Orientalis. Dalam surat, beliau tidak menceritakan pertemuannya dengan Kyai Sholeh bin Umar dari Darat atau Kyai Sholeh Darat, Semarang. Ibu Fadhila Sholeh, cucu Kyai Sholeh Darat, tergerak menuliskan kisah ini. ketika berkunjung ke rumah pamannya, Bupati Demak, Kartini menyempatkan diri mengikuti pengajian yang diberikan oleh Sholeh Darat. Saat itu beliau sedang mengajarkan tafsir Surat al-Fatihah, Kartini tertegun. karena selama ini Kartini hanya tahu membaca Al Fatihah, tanpa pernah tahu makna ayat-ayat itu. Setelah pengajian, Kartini mendesak pamannya untuk menemaninya menemui Kyai Sholeh Darat. Sang paman tak bisa mengelak, karena Kartini merengek seperti anak kecil. Berikut dialog Kartini-Kyai Sholeh.

               “Romo Guru yang mulia!” Kartini membuka maksud. “Selama hidup saya, barulah kali ini ananda sempat mengerti makna surat al-Fatihah, induk al-Qur’an itu. Begitu besar rasa syukur ananda kepada Allah Swt. Namun sayang Romo Guru, ananda tak habis pikir, mengapa selama ini kita belum menerjemahkan al-Qur’an dalam bahasa Jawa? Bukankah al-Qur’an merupakan petunjuk bagi segenap manusia?”Kartini menarik nafas dalam-dalam.
               “Teruskan anakku!”. Pancing Kyai Sholeh.
               “Jadi, hemat saya, orang-orang Jawa seperti saya perlu mengerti dan memahami isi kitab suci itu, terutama melalui jalan Eyang Romo Guru terangkan dalam pengajian tadi. Apalagi Ramanda saya ikut bersyukur atas minat Amanda mendalami al-Qur’an. “
               “Baiklah! Apakah ada pertanyaan lagi, wahai anakku?”. Kyai Sholeh masih menangkap gurat kegelisahan pada wajah Kartini.
               “Begini Romo Guru. Khusus tentang penerjemahan dan penafsiran al-Qur’an dalam bahasa Jawa itu, apakah ada syarat-syarat bagi orang yang dianggap cukup sebagai ahli di bidang tersebut?”.
               “Sungguh, anakku Kartini!. Tidak sedikit bilangannya. Syarat-syaratnya sungguh berat. Antara lain, orangnya harus menguasai Bahasa Arab yang khas dengan al-Qur’an lengkap dengan nahwu, sharaf, badi’, ma’ani, bayan, balaghah, isti’arah, lengkap dengan keilmuan lainnya”. Terang Kyai Sholeh Darat sambil tersenyum.
               “Tapi Romo Guru sudah ahli dan menguasai ilmu-ilmu itu? Maka sekarang ananda mohon sudi kiranya Romo Guru berkenan segera menulis untuk bangsa kita pada umumnya berupa kitab terjemah dan tafsir al-Qur’an dalam Bahasa Jawa. Sebab hal itu akan menjadikan mereka memahami bisikan suci dari kitab tuntunan hidup mereka. Dan Romo Guru akan besar sekali jasanya”.

               Habis “Gelap” Terbitlah “Terang”                                    
            Dalam pertemuan itu Kartini meminta agar Qur’an diterjemahkan, menurutnya  tidak ada gunanya membaca kitab suci yang tidak diketahui artinya.  Tetapi pada waktu itu penjajah Belanda secara resmi melarang orang menerjemahkan al-Qur’an.  Kyai Sholeh Darat melanggar larangan ini, Beliau menerjemahkan Qur’an dengan ditulis dalam huruf “arab gundul” (pegon) sehingga tak dicurigai penjajah. Kitab tafsir & terjemahan Qur’an ini diberi nama Kitab Faidhur-Rohman, tafsir pertama di Nusantara dalam bahasa Jawa dengan aksara Arab. Kitab ini pula yang dihadiahkannya kepada Kartini pada saat dia menikah  dengan R.M. Joyodiningrat, seorang Bupati Rembang.  Kartini amat menyukai hadiah itu dan mengatakan:

“Selama ini Al-Fatihah gelap bagi saya.  Saya tak mengerti sedikitpun maknanya. Tetapi sejak hari  ini ia menjadi terang-benderang sampai kepada makna tersiratnya,  sebab Romo Kyai telah menerangkannya dalam bahasa Jawa  yang saya pahami.”
{inilah dasar dari buku “Habis gelap terbitlah terang” bukan dari sekumpulan surat menyurat beliau,.. sejarah telah di simpangkan, (penulis red)}.
            Melalui terjemahan kyai Sholeh Darat itulah RA Kartini menemukan ayat yang amat menyentuh nuraninya yaitu: “Orang-orang beriman dibimbing Allah dari gelap menuju cahaya” (Q.S. al-Baqoroh: 257).
            Dalam banyak suratnya kepada Abendanon,  Kartini banyak mengulang kata “Dari gelap menuju cahaya” yang ditulisnya dalam bahasa Belanda: “Door Duisternis Toot Licht.” Oleh Armijn Pane ungkapan ini diterjemahkan menjadi “Habis Gelap Terbitlah Terang,” yang menjadi judul untuk buku kumpulan surat-menyuratnya. 
            Surat yang diterjemahkan Kyai Sholeh adalah Al Fatihah sampai Surat Ibrahim. Kartini mempelajarinya secara serius, hampir di setiap waktu luangnya. Namun sayangnya penerjemahan Kitab Faidhur-Rohman ini tidak selesai karena Kyai Sholeh Darat keburu wafat. Kyai Sholeh membawa Kartini ke perjalanan transformasi spiritual. Pandangan Kartini tentang Barat (baca: Eropa) berubah. Perhatikan surat Kartini bertanggal 27 Oktober 1902 kepada Ny Abendanon :
“Sudah lewat masanya, semula kami mengira masyarakat Eropa itu benar-benar yang terbaik, tiada tara. Maafkan kami. Apakah ibu menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah ibu menyangkal bahwa di balik yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal yang sama sekali tidak patut disebut peradaban. Tidak sekali-kali kami hendak menjadikan murid-murid kami sebagai orang setengah Eropa, atau orang Jawa kebarat-baratan”.
            Dalam suratnya kepada Ny. Van Kol, tanggal 21 Juli 1902, Kartini juga menulis; 
“Saya bertekad dan berupaya memperbaiki citra Islam, yang selama ini kerap menjadi sasaran fitnah. Semoga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat agama lain memandang Islam sebagai agama disukai.”
            Lalu dalam surat ke Ny Abendanon, bertanggal 1 Agustus 1903, Kartini menulis;
“Ingin benar saya menggunakan gelar tertinggi, yaitu Hamba Allah”.
            Sumber :
            http://www.sarkub.com

Minggu, 20 Januari 2013

makalah tugas KDK I: Pemeriksaan Fisik pada Bayi


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG
Dewasa ini, pemeriksaan fisik bukan sekedar anamnesa secara procedural. Akan tetapi, observasi hingga pemeriksaan refleks menjadi tahapan yang perlu untuk diperhatikan. Maka, penilaian apgar score perlu dilakukan untuk melengkapi pemeriksaan fisik. Dari adaptasi, kemampuan refleks serta penilaian tanda akan menjadi pelengkap dalam penilaian status kesehatan pada bay. Cairan amnion dalam rangka penilaian jumlah volume akan membantu untuk memudahkan bidan atau petugas kesehatan dalam mengukur keadaan bayi. Plasenta dan tali pusat juga dilakukan pengecekan agar seluruh keadaan bayi dapat terdokumentasi  secara detail.
            Pada bayi, pengukuran antropometri bukan hanya untuk mengetahui detail keadaan fisik bayi namun catatan untuk mempermudah bidan atau petugas kesehatan dalam merangkum semua keadaan dalam praktik pelaksanaan pemeriksaan fisik.

1.2 RUMUSAN MASALAH
·         Apakah yang dimaksud dengan pemeriksaan fisik pada bayi?
·         Bagaimanakah procedural dan pelaksanaan pemeriksaan fisik pada bayi

1.3 TUJUAN PENULISAN
·         Mahasiswa mengerti tentang pemeriksaan fisik pada bayi
·         Mahasiswa mengetahui procedural serta mampu melaksanakan pemeriksaan fisik pada bayi






BAB II
PEMBAHASAN
PEMERIKSAAN FISIK PADA BAYI
Kegiatan ini merupakan pengkajian fisik yang dilakukan oleh bidan yang bertujuan untuk memastikan normalitas & mendeteksi adanya penyimpangan dari normal serta menilai status kesehatannya. Pengkajian ini dapat ditemukan indikasi tentang seberapa baik bayi melakukan penyesuaian terhadap kehidupan di luar uterus dan bantuan apa yang diperlukan. 
Dalam pelaksanaannya harus diperhatikan agar bayi tidak kedinginan, dan dapat ditunda apabila suhu tubuh bayi rendah atau bayi tampak tidak sehat.
Tujuan dari Pemeriksaan Fisik
 Tujuan Dari Pemeriksaan Fisik adalah :
1.                  Untuk menentukan status kesehatan klien
2.                  Mengidentifikasi masalah
3.                  Mengambil data dasar untuk menentukan rencana tindakan
4.                  Untuk mengenal dan menemukan kelainan yang perlu mendapat tindakan segera.
5.                  Untuk menentukan data objektif dari riwayat keperawatan klien.

Prinsip pemeriksaan fisik pada bayi
1.      Jelaskan prosedur pada orang tua dan minta persetujuan tindakan
2.      Cuci dan keringkan tangan , pakai sarung tangan
3.      Pastikan pencahayaan baik
4.      Periksa apakah bayi dalam keadaan hangat, buka bagian yangg akan diperiksa (jika bayi telanjang pemeriksaan harus dibawah lampu pemancar) dan segera selimuti kembali dengan cepat
5.      Periksa bayi secara sistematis dan menyeluruh

Peralatan dan Perlengkapan :
a.       Kapas  alkohol dalam tempatnya.
b.      Bak instrumen
c.       Handscoon
d.      Tissue dalam tempatnya
e.       Senter
f.       Termometer
g.       Stetoskop
h.       Tongs patel
i.        Selimut bayi
j.        Bengkok
k.       Timbangan bayi
l.        Selimut bayi
m.      Bengkok
n.       Timbangan bayi
o.       Pita ukur/metlin
p.       Timer
q.       Pengukur panjang badan
r.        Buku catatan

Prosedur
Jelaskan pada ibu dan keluarga maksud dan tujuan dilakukan pemeriksaan
Lakukan anamnesa riwayat dari ibu meliputi faktor genetik, faktor lingkungan, sosial,faktor ibu (maternal),
faktor perinatal, intranatal, dan neonatal
Susun alat secara ergonomis
. Cuci tangan menggunakan sabun dibawah air mengalir, keringkan dengan handuk bersih. Memakai sarung tangan. Letakkan bayi pada tempat yang rata.
Sebelum melakukan pemeriksaan fisik pada bayi baru lahir, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, antara lain :
1.         Bayi sebaiknya dalam keadaan telanjang di bawah lampu terang sehingga bayi       tidak mudah kehilangan panas atau lepaskan  pakaian hanya pada daerah yang di periksa.
2.         Lakukan prosedur secara berurutan dari kepala ke kaki atau lakukan prosedur yang memerlukan observasi ketat lebih dahulu, seperti paru, jantung dan abdomen.
3.         Lakukan prosedur yang menggangu bayi, seperti pemeriksaan refleks pada tahap akhir bicara lembut, pegang tangan bayi di atas dadanya atau lainnya.
DIAGNOSIS FISIK PADA BAYI

Diagnosis fisik cara baku untuk diagnosa penyakit, Pemeriksaan penunjang (sederhana-canggih) tidak dapat menggantikan kedudukan diagnosis fisik, Urutan proses diagnostik tetap diawali anamnesis dan pemeriksaan fisik.
2.1  ANAMNESIS

Wawancara langsung pasien (Autoanamnesis) atau orang lain (Heteroanamnesis)
dimana Diagnosis penyakit anak + 80 % dari anamnesis sehingga hal ini Merupakan bagian yang sangat penting dalam pemeriksaan klinis. Pemeriksa harus waspada akan terjadinya “Bias”. Menggunakan bahasa awam, Harus dilakukan pada saat yang tepat dan suasana yang memungkinkan. Heteroanamnesis dilakukan kepada orang yang dekat dengan anak. Pemeriksa harus bersikap empati, menyesuaikan diri dengan yang diwawancarai, Pada kasus gawat darurat anamnesis terbatas pada keadaan umum dan yang penting saja, anak harus segera ditolong, Anamnesis harus diarahkan oleh pemeriksa, supaya tidak ngelantu
r.
Dalam melakukan anamnesis, pemeriksa harus berupaya agar tercipta suasana yang kondusif agar orangtua, pengantar, atau pasiennya dapat mengemukakan keadaan pasien dengan spontan, wajar, namun tidak berkepanjangan.
Anamnesis biasanya dilakukan dengan wawancara secara tatap muka, dan keberhasilannya untuk sebagian besar bergantung  pada kepribadian, pengalaman, dan kebijakan pemeriksa.

Langkah – langkah dalam pembuatan anamnesis :
1.      Identitas pasien.
identitas ini diperlukan untuk memastikan bahwa yang diperiksa benar- benar anak yang dimaksud, dan tidak keliru dengan anak lain. Adapun yang harus ada dalam identitas, yaitu :
a)      Nama.
b)      Umur.
Umur sebaiknya didapat dari tanggal lahir. Usia anak juga diperlukan untuk menginterpretasi apakah data pemeriksaan klinis anak tersebut normal sesuai dengan umumnya
c)      Jenis kelamin
d)     Nama orang tua (ayah, ibu)
e)      Alamat (lengkap)
f)       Umur, Pendidikan Orang tua
g)      Pekerjaan Orang tua
h)      Suku bangsa
2.      Riwayat penyakit
a)      Keluhan Utama
Keluhan yang menyebabkan anak dibawa berobat
Tidak selalu keluhan yang pertama diucapkan orang tua/pengantar
Keluhan utama harus sejalan dengan kondisi pasien dan kemungkinan diagnosis
.
b)      Riwayat Perjalanan Penyakit
Disusun cerita yang kronologis terinci dan jelas
. Dimulai dengan perincian keluhan utama. Diperinci mengenai gejala sebelum keluhan utama sampai anak berobat. Perlu ditanyakan perkembangan penyakit, kemungkinan terjadinya komplikasi, adanya gejala sisa, bahkan juga kecacatan. Dari riwayat ini diharapkan dapat diperoleh gambaran kearah kemungkinan diagnosis dan diagnosis banding.
c)      Perincian gejala mencakup
Lamanya keluhan
Terjadinya gejala-gejala mendadak, terus menerus, hilang timbul
Berat ringannya keluhan menetap, bertambah berat
Keluhan baru pertama atau pernah sebelumnya
Apakah ada saudara/serumah yang mempunyai keluhan sama
Upaya pengobatan yang dilakukan dan obat yang diberikan
Keluhan utama yang sering dijumpai: Panas badan, Sesak nafas, mencret, muntah, kejang, tidak sadar, bengkak, kuning, perdarahan
Dari riwayat penyakit diperoleh gambaran kemungkinan diagnosis dan diagnosis banding
3.      Riwayat kehamilan.
Berikut adalah hal – hal yang perlu ditanyakan, mengenai :
a)      Kesehatan Ibu selama hamil.
b)      Kunjungan antenatal.
c)      Imunisasi TT.
d)     Obat yang diminum.
e)      Makanan ibu.
f)       Kebiasaan merokok, minuman keras.

4.      Riwayat kelahiran.
ihwal kelahiran pasien harus ditanyakan dengan teliti, termasuk tanggal dan tempat kelahiran, siapa yang menolong, masa kehamilan, cara kelahiran, keadaan setelah lahir (nilai APGAR), BB & Panjang badan Lahir, keadaan anak minggu I setelah lahir.
5.      Riwayat makanan.
Pada anamnesis tentang riwayat makanan diharapkan dapat diperoleh keterangan tentang makanan yang dikonsumsi oleh anak, baik dalam jangka pendek, maupun jangka panjang. Kemudian dinilai apakah kualitas dan kuantitasnya, yaitu memenuhi angka kecukupan gizi (AKG) yang dianjurkan.
Pada bayi perlu diketahui susu apa yang diberikan : ASI ataukah pengganti air susu ibu, atau keduanya.
6.      Riwayat imunisasi.
Status imunisasi pasien, baik imunisasi dasar maupun imunisasi ulangan (booster) harus secara rutin ditanyakan, khususnya imunisasi BCG, DPT, polio, campak, dan Hepatitis-B dll.
7.      Riwayat pertumbuhan.
Dilihat kurva BB terhadap Umur (KMS)
, dapat mendeteksi riwayat penyakit kronik.
8.      Riwayat perkembangan.
Ditanyakan patokan dalam perkembangan (Milestones) motorik kasar, motorik halus, sosial, bahasa
9.      Riwayat penyakit keluarga.
Penting untuk mendeteksi penyakit keturunan atau penyakit menular
10.  Riwayat sosio ekonomi keluarga
Penghasilan Orang tua
Jumlah keluarga
Keadaan perumahan dan lingkungan
Kebersihan diri dan lingkungan
.

2.1  Pengertian Tanda-Tanda Vital
Pemeriksaan fisik adalah sebuah proses dari seorang ahli medis memeriksa tubuh pasien untuk menemukan tanda klinis penyakit. Pemeriksaan tanda vital merupakan suatu cara untuk mendeteksi adanya perubahan sistem tubuh. Tanda vital ini merupakan indikator dari status kesehatan (menandakan keefektifan sirkulasi, respirasi, fungsi neural dan endokrin tubuh). Pengukuran TTV memberikan data dasar untuk mengetahui respon terhadap stress fisiologi/psikologi, respon terapi medis dan keperawatan, serta perubahan fisiologis.